Home / ARTIKEL DHAMMA / Buddhisme & Sains / Terciptanya Bumi & Kehidupan
asal mula bumi

Terciptanya Bumi & Kehidupan

Penjelasan Sang Buddha mengenai terciptanya bumi dan kehidupan adalah terdapat pada Aganna Sutta yang merupakan kitab ke 27 dari Digha Nikaya (Dirghama), yakni yang merangkum khotbah-khotbah panjang dari Sang Buddha.
“Kemudian tibalah waktunya, “O, Vasettha, ketika, cepat atau lambat,pada suatu masa yang lama, dunia ini berlalu. Dan ketika ini terjadi,makhluk hidup sebagian besar terlahir di Alam Cahaya (Abhassara),dan di sanalah mereka tinggal, terbuat dari pikiran, diberi makan oleh kegiuran, bercahaya sendiri, melayang di udara, bersambung dalamkejayaan, dan demikianlah mereka bertahan selama waktu yang lama, periode yang lama dari waktu. Kemudian datanglah saatnya,O, Vasettha, cepat atau lambat dunia ini mulai berevolusi kembali.Ketika ini terjadi, makhluk-makhluk turun dari Alam Abhasara, biasanya melanjutkan hidupnya sebagai manusia.”

 

Ilmu pengetahuan mengatakan mengenai kesetaraan antara materi dan energi. Tubuh kita inipun adalah terbentuk atas energi. Menurut ilmu pengetahuan dewasa ini, alam semesta telah mengalami penciptaan, pendewasaan, penyusutan, dan kemudian kemusnahan dalam bentuk big bang, namun big bang ini janganlah dipandang sebagai akhir dari alam semesta, melainkan sebagai titik tolak atas terciptanya alam semesta yang baru. Pada peristiwa big bang, alam semesta dipadatkan kembali menjadi energi yang meledak dan membentuk alam semesta baru.

Demikianlah terjadi tanpa akhir, secara mengejutkan Agama Buddhapun sudah mengakui hal ini 2500 tahun sebelumnya. Oleh karena itu ajaran Sang Buddha:
“Kemudian tibalah waktunya, O,Vasettha, ketika, cepat atau lambat, pada suatu masa yang lama, dunia ini berlalu”merujuk pada musnahnya alam semesta yang lama, dan semuanya terkondesasi menjadi energi,inilah yang dimaksud dengan Alam Abhassara atau Alam Cahaya, karena cahaya sendiri adalah manifestasi dari energi. Karena itu jelas sekali Sang Buddha menjelaskan bahwa pada saat itu mereka tidak memiliki wujud, dan hanya terdiri dari pikiran. Yang mana pikiran ini menunjukkan kesinambungan energi dari makhluk hidup, yang sangat sesuai dengan hukum kekekalan energi.

Ilmu pengetahuanpun mengakui bahwa bumi tidak langsung tercipta sekali jadi, yang sangat mengagumkan adalah Sang Buddha sudah mengetahui hal ini. Berbeda dengan pandangan-pandangan yang umum diakui 2500 tahun yang lalu, yang mengatakan bahwa dunia ini diciptakan secara langsung oleh makhluk adikodrati. Proses perkembangan bumi ini jelas sekali disebutkan Sang Buddha pada kalimat:

O, Vasettha, cepat atau lambat dunia ini mulai berevolusi kembali. Pada saat perkembangan terbentuknya dunia ini,maka makhluk-makhluk pun mulai meneruskan kelahirannya, yang nampak pada kalimat dari Sutta: “melanjutkan hidupnya sebagai manusia”, yang dimaksud melanjutkan hidupnya sebagai manusia adalah meneruskan kelahirannya kembali hingga menjadi makhluk yang memiliki wujud fisik lagi.
Mengenai turunnya makhluk dari luar angkasa itu, para ilmuwan pun tidak menentangnya, mengingat adanya teori panspermia, yakni kehidupan dibawa dari angkasa luar. Hal itu telah dibuktikan dengan ditemukannya meteorit dari planet Mars, yang berisikan spora-spora kehidupan.

Mari kita baca lebih lanjut teks Sutta tersebut:
“Pada waktu itu semuanya merupakan satu dunia yang terdiri dari air, gelap gulita,. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasikonstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu, sama seperti madu lebah murni, demikianlah manisnya tanah itu.”

Sungguh mengagumkan sekali Sang Buddha telah mengatakan bahwa kehidupan berawal dari air, dengan kalimat: “one world of water”, menurut ilmu pengetahuan air sangatlah penting bagi kehidupan dan kehidupan bermula dari air. Baru pada tahun 1657, Anthonie van Leeuwenhoek, penemu mikroskop, menemukan bahwa ada makhluk sangat kecil yang hidup pada air hujan. Juga hal ini tidaklah bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang mengatakan bahwa bumi ini dulunya cair.

Pada saat bumi baru terbentuk tentu saja masih terjadi kabut yang terjadi dari pendinginan bumi, oleh karena itu matahari dan bintang belum nampak, hal ini juga secara luar biasa dinyatakan dalam Sutta ini.
Jelas sekali Sutta ini mengatakan “ No moon nor sun appeared, no stars were seen, nor constellations”. Ini berarti bahwa sebenarnya matahari dan bintang-bintang sudah ada, namun belum nampak, jadi tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang mengatakan bahwa matahari lebih tua dari bumi, banyak agama-agama yang  timbul saat itu mengatakan bahwa bumi lebih tua dari matahari, namun inilah yang benar menurut ilmu pengetahuan:
Kutipan dari Buku “Geographica, the complete illustrated world reference.” terbitan Periplus hal 10, sebagai berikut:

” A little less than 5 billions years ago, the sun was formed in a cloud of interstellar gas. The infant sun was surrounded by a cooling disk of gas and dust, the solar nebula, where knots of material were forming, cooling, breaking, and merging. The larger objects, called planetisimals, grew by accreting smaller particles, until a few protoplanets dominated. The protoplanets from the warm inner parts of disc became small rocky planets. Further out, in a cooler region, where ices of water, ammonia, and methane could condense, the giant planets formed. These planets grew in mass more rapidly, forming deep atmospheres would rocky cores. The giants planets copied the sun’s creation disk in miniature to create the moons.”

Di sini jelas bahwa matahari berusia 5 bilyun tahun, dan ada lebih dahulu sebelum planet2. Lebih jauh pada halaman 20 disebutkan bumi terbentuk sekitar 4500-5000 juta tahun yang lalu.Ilmu pengetahuan juga sepakat bahwa kehidupan pada awalnya adalah tidak berjenis kelamin atau aseksual, hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan Sang Buddha, bahwa: “Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja”, yakni belum ada pembedaan atas jantan atau betina, laki-laki atau wanita. Bagian selanjutnya adalah menggambarkan munculnya tumbuhan bersel satu:”mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih di permukaan nasi susu masak yang mendingin” Ganggang bersel satu seperti diatoms, desmids dan lain-lain berkembang biak dengan membelah diri, dari satu menjadi dua, dua menjadi empat hingga mencapai ribuan yang membentuk suatu lapisan berwarna coklat keemasan pada permukaan air,beberapa yang lainnya membentuk lapisan berbunga-bunga atau berbuih-buih di atas permukaan air, dan memberikan rasa tertentu pada air. Jadi jelas secara mengagumkan Sutta ajaran Sang Buddha itu memberikansuatu penggambaran yang akurat mengenai munculnya kehidupan pertama berupa tumbuhan bersel satu.

Selanjutnya kita baca lagi bagian Sutta berikutnya:
“Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata, “Oh, apakah ini?” dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jarinya.

Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan sari-sari tanah itu dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap.

Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari,bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak.Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk. Sebagian mahluk memiliki bentuk yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang jelek.
Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang jelek, dengan berfikir: “Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita”.

Sementara mereka bangga akan keindahannya, sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya “sayang, lezatnya! Saying lezatnya!”. Demikian sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata “Oh, lezatnya! Oh, lezatnya!” yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata tersebut.”

Di sini jelas sekali hewan bersel satu menjadi makanan dari makhluk-makhluk purba lainnya, dan karena makanan itu maka mulai mengalami perubahan alias berevolusi, tubuh fisik mulai berkembang. Pada bagian ini Sang Buddha memasukkan ajaran moral yakni melawan keserakahan serta rasa sombong, jadi ajaran Buddha bukanlah semata- mata ajaran ilmiah belaka, melainkan juga ajaran moral.

Mengingat menurut Agama Buddha, tubuh fisik ini juga ditentukan oleh pikiran. Saat itu bumi beserta atmosfernya mulai cukup stabil dan dingin sehingga sangat membantu bagi perkembangan makhluk hidup berikutnya, maka saat itu matahari dan benda-benda langit lainnya mulai tampak.

Sutta berikutnya kita baca lagi:
“Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko).Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, rasa, dan bau, sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tumbuhan itu, sama seperti madu lebah murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah itu. Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang jelek. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah mememandang randah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang jelek, dengan berfikir, “Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita.” Sementara mereka bangga akan keindahannya, sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (baladata) muncul, dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau, dan rasa, sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu, sama seperti madu lebah murni, demikanlah manisnya tumbuhan itu.”

Sesuai dengan ilmu pengetahuan, tumbuhan mulai berkembang di darat dan makin kompleks, seperti misalnya jamur, yang dalam Bahasa Pali disebut: Ahicchanttako, bagian juga menggambarkan evolusi terpisah antara dua kingdom dalam ilmu biologi, yakni kingdom plantaria (tumbuhan) dan animalia (hewan).
Pada ayat di atas kita juga dapat mengetahui bahwa jumlah makhluk hidup makin beraneka ragam: “, maka tubuh mereka menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas”. Ada makhluk yang bentuknya indah dan ada yang buruk. Juga para makhluk hidup makin tergantung dengan makanan mereka. Hal ini juga sejalan dengan ilmu pengetahuan, yakni Burung Finch Darwin, yang mana bentuk paruhnya ditentukan oleh jenis makanannya. Lalu tumbuhan juga berkembang makin kompleks dengan munculnya tumbuhan menjalar, ini menggambarkan keadaan jaman Prekambrium dan Kambrium.

Teks Sutta berikutnya:
Kemudian, Vaettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.
Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang jelek. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah, memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang jelek, dengan berfikir, “Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita”.
Sementara mereka bangga akan keindahannya, sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya “kasihan kita, milik kita hilang!”. Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab, “Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang” yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu.

Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih.
Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali.
Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.
Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.
Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga).
Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna).

Dari ayat di atas kita mengetahui adalah bahwa fase selanjutnya munculnya tumbuhan-tumbuhan berbiji yang dikatakan sebagai: tumbuhan padi-padian pada Sutta di atas, juga makhluk mulai dibedakan atas jantan dan betina.
Pada periode evolusi ini, makhluk hidup mulai mengembangkan DNAnya, serta dengan bantuan lingkungannya, yakni air, panas dan lain sebagainya untuk membentuk sel-sel baru. Juga ada ajaran moral mengenai kecongkakan dan hawa nafsu.Demikianlah makhluk-makhluk tersebut akhirnya berkembang menjadi manusia.

Komentar Anda

Bagaimana Pendapat Anda

About sugata

“Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya; Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya, demi kebenaran Dhamma” (Khuddaka Nikaya, Jataka 28/147)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>